Hari Guru, P2G Soroti Masih Maraknya Perundungan di Satuan Pendidikan

Sedang Trending 1 minggu yang lalu 28

Foto guru bersama siswa kelas yang dipajang pada pintu pada peringatan Hari Guru Nasional di SDN Pondok Cina 1, Depok, Jawa Barat, Jumat (25/11/2022). Siswa SDNPondok Cina 1 tetap memperingati Hari Guru Nasional meskipun para guru tak hadir ke sekolahnya sejak (14/11/2022), akibat polemik relokasi sekolah menjadi masjid raya. Republika/Putra M. Akbar

Foto: Republika/Putra M. Akbar

Sekolah yang belum bentuk Gugus Tugas Pencegahan Kekerasan perlu disanksi.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pada Hari Guru Nasional (HGN) 2022, Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) menyayangkan tetap terjadinya perundungan atau bullying yang terjadi di satuan pendidikan, bagus yang korbannya siswa maupun guru. P2G mendesak organisasi profesi guru terlibat memberikan pemahaman mengenai hak-hak anak seperti UU Perlindungan Anak bagi guru agar tak menggunakan kekerasan dalam mendidik siswa.

"Kekerasan di sekolah makin menjadi-jadi, sekolah sudah keadaan darurat. Kemdikbudristek, Kemenag dan Pemda mesti mobilitas cepat. Jangan tiba kita menormalisasi kekerasan apapun bentuknya. Banyak sekolah yang belum sadar kewajiban mereka mencegah dan menanggulangi kekerasan sesuai Permendikbud 82 Tahun 2015," jelas Koordinator Nasional P2G, Satriwan Salim, lewat keterangannya, Jumat (25/11/2022).

Dia menambahkan, P2G mendesak dinas pendidikan tiap daerah proaktif mengedukasi bahkan memfasilitasi sekolah agar menjadi sekolah ramah anak. Hendaknya, kata dia, dinas pendidikan memberikan hukuman tegas bagi sekolah yang belum membentuk Gugus Tugas Pencegahan Kekerasan di Satuan Pendidikan.

"Perlu juga menindak tegas sekolah yang belum memasukkan strategi pencegahan dan penanggulangan tindak kekerasan di satuan pendidikan dalam arsip kurikulum operasional sekolah mereka, sesuai terpercaya Permendikbud Nomor 82 Tahun 2015," kata Satriwan.

Selain itu, maraknya guru yang terjebak pinjaman online (pinjol) juga dia lihat meresahkan. Sebab, guru sebagai figur pendidik yang semestinya bertindak rasional dan melek literasi finansial rupanya sebaliknya.

Data OJK menyebutkan, sebanyak 42 persen masyarakat yang terjerat pinjol ilegal ialah guru, artinya guru paling banyak terjebak pinjol. Itu dia sebut fakta sangat menyedihkan sekaligus menimbulkan pertanyaan lebih lanjut.

"Apakah 42 persen guru yang terjebak pinjol itu berstatus guru honorer atau swasta dengan upah yang tak layak? Atau statusnya PNS? Jika yang kena guru honorer, kami rasa layak saja, dampak jelek rendahnya gaji mereka. Gelap mata, pakai jalan pintas. Gaji sebulan Rp 500 ribu punya anak lebih dua orang. Upah minimum pun tidak. Apalagi sejahtera, solusi memenuhi kebutuhan hidupnya ya ikut pinjol," jelas Satriwan.

Saksikan Video Hari Guru, P2G Soroti Masih Maraknya Perundungan di Satuan Pendidikan Selengkapnya di bawah ini:
Please Subscribe our channel