Berita Terkini Nasional Dan Internasional 2020
Home jadwal bola Skor bola Zodiakmu Hari Ini dairi  

Epidemiolog Sebut Kebijakan New Normal Masih Terlalu Dini | Berita Tempo Hari Ini

Oleh : Admin | on Rabu, 27 Mei 2020 15:51 WIB

Epidemiolog Sebut Kebijakan New Normal Masih Terlalu Dini | Berita Tempo Hari Ini

Personel TNI saat berjaga di Stasiun MRT Bundaran HI, Jakarta, Selasa, 26 Mei 2020. Presiden Joko Widodo mengatakan kedepannya aparat gabungan TNI dan Polri akan dikerahkan ke berbagai lokasi keramaian untuk lebih mendisiplinkan masyarakat mengikuti protokol kesehatan dalam penerapan "New Normal" sebagai upaya pencegahan virus COVID-19. TEMPO/M Taufan Rengganis

SUMUTkota.com, Jakarta - Pakar Epidemiologi Universitas Indonesia Syahrizal Syarif mengatakan Indonesia belum bisa menerapkan new normal atau kenormalan baru. Sebabnya, menurut dia, penularan virus corona masih belum terkendali.

"Laporan kasus harian masih berfluktuasi maka terlalu dini untuk bicara soal normalitas baru," kata Syafrizal melalui keterangan tertulisnya, Rabu, 27 Mei 2020.

Ia menuturkan kebijakan new normal merupakan penerapan perilaku sebagai upaya pencegahan infeksi Covid-19 dalam situasi wabah sudah terkendali, namun vaksin belum ada. Normalitas baru dalam berbagai kegiatan belajar, bekerja, dan beribadah tentunya mempunyai indikator masing-masing. "Untuk Indonesia sebenarnya ketika wabah belum terkendali masih terlalu dini membicarakan new normal."

Menurut dia, Indonesia masih dalam tahap bagaimana melaksanakan pembatasan sosial berskala besar memberi dampak berarti pada penurunan kasus harian. Melihat data per wilayah, seperti beberapa provinsi misalnya. Maka akan terlihat perbedaan perkembangan yang cukup tajam antar wilayah.

Ia menuturkan ada sekitar 66 persen atau 22 provinsi yang melaporkan kasus dalam satu digit atau di bawah 10. "Separuh di antaranya melaporkan nihil kasus."

Sementara 12 Provinsi melaporkan di angka dua digit atau di bawah 100. Walau DKI menyatakan klaim penurunan kasus, kata dia, harus dilihat bahwa risiko penduduk Ibu Kota tertular Covid-19 sangat tinggi.

Angkanya, Syahrizal mengimbuhkan, mencapai 723 per 100.000 penduduk. Bandingkan dengan Jawa Timur, provinsi dengan jumlah penduduk terbesar di Indonesia yang angka kejadian Covid-19 hanya 1,5 per 100.000 penduduk.

Sedangkan, Sulawesi Selatan berada pada peringkat dua dengan 120 per 100.000 penduduk. Kemudian disusul Banten dan Jawa Barat pada jumlah yang sama 106 per 100.000 penduduk per 25 Mei 2020.

"Jadi bila pemerintah dalam situasi wabah masih berfluktuasi saat ini, sudah ingin melakukan pelonggaran, maka harus siap dengan kemungkinan terjadinya lonjakan kasus mengingat penularan transmisi lokal masih berlangsung."



Epidemiolog Sebut Kebijakan New Normal Masih Terlalu Dini | Bang Naga | on Rabu, 27 Mei 2020 15:51 WIB | Rating 4.5
Cuplikan :Judul: Epidemiolog Sebut Kebijakan New Normal Masih Terlalu Dini
Description: Pakar Epidemiologi Universitas Indonesia Syahrizal Syarif mengatakan Indonesia belum bisa menerapkan new normal atau kenormalan baru.
Alamat: https://news.sumutkota.com/tempo/read/1346772/epidemiolog-sebut-kebijakan-new-normal-masih-terlalu-dini.html
Artikel Terkait

Bagikan Ke : Facebook Twitter Google+

CONTENT

» Kenangan akan Mbah Lindu Penjual Gudeg Legendaris Yogyakarta
» Sepekan Dibui, Profesor Pengkritik Presiden China Dibebaskan
» Geledah Kantor Bupati Lampung Selatan, KPK Sita Dokumen
» Junhoe-Jinhwan iKON Kecelakaan, Fan Tuntut YG Buka Suara
» Kasih Modal Kerja, Jokowi Minta Pedagang Cilik Kerja Keras
» Jantung Pacu Pindad Maung Pesanan Prabowo Merek Toyota
» Infeksi Pneumonia, Kadis Pendudukan Surabaya Meninggal Dunia

Karir


Lirik


Nasional

» Gempa Bumi Hari Ini

menu


Tempo LIPUTAN DAIRI QUICK COUNT PILPRES Zodiak
© 2017 - 2020 news.sumutkota.com | Pers | V.DB: 3.50 | All Right Reserved

DMCA.com Protection Status


Page loads : seconds